American Psychological Association (APA) mendefinisikan self-help sebagai sebuah tindakan yang berfokus pada upaya mandiri, berbeda dengan intervensi yang dipandu oleh seorang profesional, yang bertujuan untuk mengatasi masalah dalam hidup seseorang. Self-help melibatkan self-reliance (bergantung pada diri sendiri) dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, seperti membaca buku self-help.
Self-help dapat membantu permasalahan psikologis umum yang berada dalam tingkatan ringan seperti rasa cemas. Self-help dapat berfungsi sebagai pertolongan pertama saat menghadapi situasi pemicu munculnya kecemasan. Teknik sederhana seperti mindfulness dan visualization, dapat digunakan untuk mengatasi gejala kecemasan. Namun, pertolongan dari profesional dibutuhkan jika Anda ingin mengatasi gangguan psikologis hingga ke akarnya, terutama untuk gangguan psikologis yang berat dan klinis.
Meskipun self-help merupakan sebuah upaya mandiri untuk mengatasi permasalahan psikologis, self-help dapat dilakukan secara berkelompok bersama orang-orang yang memiliki permasalahan serupa (biasa disebut self-help groups). Karakteristik utama dari self-help groups adalah adanya dukungan sosial dari sesama anggota kelompok. World Health Organization (WHO) telah mengembangkan panduan untuk melaksakanan self-help groups yang dinamakan ‘Self-Help Plus (SH+)’. Panduan ini berisi lima sesi pertemuan untuk meningkatkan pengelolaan stres pada populasi yang terdampak bencana. Tujuan dari panduan ini adalah mengurangi stres pada orang dewasa yang sudah didiagnosa memiliki gangguan psikologis maupun yang baru menunjukkan gejala awal gangguan psikologis.