Gardner (2002) memperkenalkan konsep ‘good work’ dalam dunia profesional yang meliputi orang-orang dengan keterampilan profesional di bidangnya. Mereka bijaksana dalam menyelesaikan tanggung jawab dan mempertimbangkan dampak dari pekerjaannya daripada sekedar menghasilkan uang dan mencari jabatan. Selain itu, mereka mampu menyelaraskan tanggung jawab pekerjaannya terhadap tujuan personal mereka.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencapai situasi ‘good work’, yaitu: mission – tugas utama dari profesi tersebut; standards – kode etik atau aturan baku yang berlaku pada masing-masing profesi; dan identity – kesatuan dari latar belakang, nilai, dan sifat yang dimiliki seseorang. Berdasarkan pendekatan psikologi, analisa terhadap identitas yang dimiliki seseorang dapat dilakukan untuk menyeimbangkan dengan kedua aspek lainnya. Oleh karena itu, pendampingan profesional dalam membangun persepsi kerja ‘good work’ diperlukan.
Namun, penerapan ‘Goodwork Project’ ini lebih sulit dilakukan daripada yang terlihat. Banyak tekanan lain yang perlu dipertimbangkan oleh pimpinan, seperti tuntutan untuk menekan pengeluaran namun menghasilkan keuntungan yang besar, proses kerja yang lebih cepat, dan mampu menjalani berbagai peran lainnya (seperti peran sebagai ayah/ibu, suami/istri, anak, dsb). Oleh karena itu, dilema ini menghasilkan ‘compromised work’ dimana pekerjaan yang dilakukan tidak sepenuhnya menyalahi etika namun masih sesuai dengan nilai penting dari profesi yang dijalani.