STRATEGI MENJADI ORANG YANG TANGGUH (RESILIENCE)

Secara makna, resilience didefinisikan sebagai kapasitas untuk bertahan atau pulih dengan cepat dari kesulitan yang dihadapi. Keterampilan ini sangat berguna saat Anda mengalami masalah yang berat sehingga dapat kembali bangkit dan melanjutkan hidup.

Kebanyakan orang tidak nyaman dengan kondisi berduka, sedih dan marah, sehingga mereka ingin cepat-cepat melupakan rasa sakitnya dan beralih ke kondisi yang membahagiakan. Dorongan untuk mendapatkan emosi positif secara instan tidak dapat membantu Anda dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi.

Berikut ini strategi praktis yang dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan ketangguhan saat menghadapi permasalahan.

  1. Mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi yang dirasakan secara jujur
    Proses ini dapat menjadi suatu tantangan yang berat bagi seseorang yang sedang menghadapi permasalahan karena seringkali mereka menghindari untuk memahami perasaannya dengan menyibukkan diri pada kegiatan lain. Ada perasaan takut bahwa emosi yang sebenarnya dirasakan terlalu berat untuk diterima. Namun, Anda tidak bisa menghadapi ‘lawan’ yang tidak dikenali. Berikan diri sendiri ruang untuk merasakan emosi yang dimiliki dan carilah dukungan dari disekitar Anda untuk membantu mengenali dan menghadapi emosi tersebut bersama. Anda bisa menuliskan atau menggunakan media gambar untuk mengekspresikan perasaan yang dimiliki.
  2. Memahami permasalahan yang dihadapi
    Pada proses ini, Anda memerlukan keterampilan untuk memaknakan permasalahan yang dihadapi sebagai sesuatu yang normal terjadi dalam kehidupan dan dapat diselesaikan. Anda perlu menyadari bahwa permasalahan yang Anda hadapi merupakan kendala yang juga dihadapi oleh orang lain, sehingga Anda boleh meminta bantuan dan dukungan dari keluarga, teman, maupun seorang profesional. Proses ini membuat Anda memiliki harapan bahwa seluruh permasalahan ini dapat terlewati. Adanya harapan dalam menghadapi masalah merupakan hal penting dari ketangguhan (resilience). Tanpa adanya harapan, Anda tidak memiliki motivasi untuk bergerak maju dan menghadapi hambatan tersebut. Kedekatan spiritualitilas dengan Tuhan dapat meningkatkan keyakinan bahwa ‘Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untuk saya’, sehingga Anda bisa mempertahankan harapan untuk tetap berjuang menghadapi permasalahan yang terjadi.
  3. Regulasi diri dan emosi
    Regulasi diri merupakan kemampuan untuk mengelola emosi dan mengarahkan emosi tersebut untuk beradaptasi secara sehat sesuai dengan situasinya. Beberapa kegiatan berikut dapat membantu meningkatkan regulasi emosi, seperti:
    • Memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan emosi secara jujur,
    • Menerima ketidakpastian yang tidak bisa dikontrol,
    • Self compassion dan self care.
  4. Berkomitmen untuk menemukan solusi yang efektif
    Semua penolakan yang dilakukan dalam menerima perasaan dan situasi yang sedang dihadapi menghambat seseorang menemukan solusi untuk melanjutkan hidupnya yang baru. Anda perlu merenungkan nilai dalam diri yang ingin ditunjukkan dalam menghadapi kesulitan. Jika Anda takut untuk melangkah maju berarti Anda  meremehkan rasa sakit yang selama ini telah dihadapi atau Anda tidak menghormati kenangan yang dimiliki bersama orang yang telah tiada. Anda perlu memberanikan diri Anda untuk melakukan tindakan agar dapat keluar dari kesulitan yang dihadapi.
  5. Carilah komunitas yang dapat memberikan dukungan sosial
    Disaat Anda menghadapi situasi yang sangat menyakitkan, Anda mungkin merasa bahwa keluarga maupun teman tidak dapat memahami perasaan Anda karena mereka tidak mengalami situasi yang sama. Anda dapat mencari komunitas yang memiliki pengalaman serupa sehingga Anda dapat menjalin relasi dan berjuang bersama-sama menghadapi kesulitan tersebut.

Tinggalkan Komentar