Aristoteles, Kahlil Gibran, dan Lao Zi meyakini bahwa mengenali diri sendiri merupakan awal seluruh kebijaksanaan seseorang. Memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai diri sendiri bukan berarti menjadi terobsesi dengan kemampuan yang dimiliki. Melainkan, memberikan penilaian yang objektif dan penuh kasih sayang terhadap motivasi atas setiap perilaku dan perasaan seseorang.
Berikut ini keuntungan yang didapatkan seseorang yang telah mengenali kelebihan dan kekurangan dirinya serta menerima kondisi tersebut sepenuhnya.
- Meningkatkan kontrol diri dan integritas
Kesadaran akan kekurangan yang dimiliki dapat ditindaklanjuti dengan meningkatkan kontrol diri. Jika Anda merupakan seorang yang bersikap terbuka dalam menyampaikan kritik dan dapat menyinggung perasaan orang lain melalui umpan balik yang disampaikan, maka Anda perlu belajar mengontrol cara penyampaian umpan balik secara lebih efektif tanpa menyakiti perasaannya. Selain itu, mengetahui motif munculnya konflik antar nilai yang dimiliki dapat mengarahkan pada pembentukan modifikasi motif, nilai, atau keduanya. - Meningkatkan empati terhadap orang lain
Kesadaran akan batasan yang dimiliki seseorang dapat membuat Anda lebih dapat memahami situasi yang dihadapi orang lain. Menyadari adanya batasan yang dimiliki oleh setiap orang membuat Anda dapat mengidentifikasi beratnya tantangan yang perlu dihadapi. - Mengurangi penggunaan mekanisme pertahanan yang merusak diri
Ketika Anda dapat mengenali dan menerima kegagalan maupun kesalahan yang telah dilakukan, maka Anda dapat berfokus pada perubahan perilaku yang dapat dilakukan. Memulai awal yang baru setelah melakukan kesalahan dan berusaha lebih baik pada kesempatan berikutnya merupakan suatu bentuk respon yang positif saat menghadapi kegagalan. Di sisi lain, seseorang yang menyalahkan orang lain atau lingkungan atas kegagalan yang terjadi akan memberikan dampak yang buruk bagi dirinya. Pada dasarnya tidak ada orang yang ingin disalahkan atas tindakan yang bukan kesalahannya sehingga dapat menyebabkan rekan tersebut marah dan menghindari interaksi. Orang yang suka menyalahkan orang lain atau ‘blamers’ seringkali sulit diajak berinteraksi karena mereka memiliki pemahaman akan realitas yang berbeda dan berpotensi untuk melakukan perilaku gaslighting. Seorang blamers pun sulit untuk mengubah dirinya karena ia menolak untuk bertanggung jawab atas tindakan yang telah dilakukan.