Sosial media seringkali dijadikan wadah untuk membagikan momen berharga yang dimiliki seseorang, termasuk momen bahagia maupun sedih. Beberapa orang membagikan pengalamannya berjuang melawan kesulitan dalam hidup secara tulus untuk memberikan pembelajaran kepada orang lain atau menjadi inspirasi untuk berjuang bersama. Namun, tren ‘sadfishing’ semakin banyak terjadi pada pengguna sosial media. Sadfishing merupakan situasi melebih-lebihkan atau memanipulasi kondisi emosional yang dirasakan untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari orang lain melalui konten sosial media yang dibagikan. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh remaja dengan gangguan kecemasan dan depresi yang kekurangan dukungan dari orang disekitarnya.
Penelitian terakhir menunjukkan faktor yang mempengaruhi munculnya perilaku sadfishing, yaitu:
- Memiliki mekanisme pertahanan diri denial
Denial atau penolakan merupakan sebuah bentuk pertahanan diri dimana seseorang menghindari untuk menghadapi perasaan atau situasi yang menyakitkan. Mereka tidak berani menghadapi kondisi emosi yang sebenarnya sehingga memilih melebih-lebihkan ekspresi emosi yang dirasakan melalui sosial media untuk mencari pembenaran dan simpati. Langkah pelarian tersebut hanya bersifat sementara dan tidak dapat menyelesaikan masalah yang sebenarnya terjadi. - Intoxication
Pengaruh minuman beralkohol dapat menurunkan penilaian yang dilakukan terhadap kondisi emosi seseorang. Pengaruh minuman beralkohol tersebut menyebabkan seseorang mengunggah konten di sosial media secara impulsif dengan tujuan mendapatkan perhatian dan simpati dari pengguna sosial media lain. - Perilaku mencari perhatian yang berkaitan dengan gangguan kepribadian
Salah satu penelitian menyimpulkan bahwa seseorang dengan riwayat gangguan kepribadian lebih rentan untuk melakukan sadfishing karena mereka membutuhkan perhatian dan pengakuan yang sangat besar dari orang lain. Mereka juga merasa tidak nyaman saat tidak menjadi pusat perhatian. - Anxious attachment
Sadfishing juga bisa disebabkan oleh gaya anxious attachment, yang memiliki ditandai dengan kebutuhan yang tinggi terhadap penerimaan dari orang lain dan ketakutan akan penolakan.
Pada dasarnya, mencari perhatian dari orang lain saat merasa stres merupakan hal yang normal karena setiap orang ingin merasa diperhatikan, dicintai, dan disayangi. Namun, tindakan memanipulasi emosi orang lain melalui sadfishing merupakan tindakan yang salah. Orang lain akan merasa sedih dan tertipu saat mereka mengetahui situasi yang sebenarnya. Kondisi tersebut dapat merusak kepercayaan dan menimbulkan sikap apatis terhadap permohonan bantuan di masa depan.