Sepanjang abad 21, kesadaran akan kesehatan mental telah mengalami trasnformasi besar-besaran. Isu yang sebelumnya merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan, saat ini menjadi topik hangat yang sering didiskusikan oleh banyak orang. Gerakan untuk menghilangkan stigma negatif mengenai kesehatan mental telah mendorong orang-orang untuk berani mencari bantuan dari ahli profesional.
Namun, tantangan baru muncul setelah banyak orang menyadari tentang pentingnya kesehatan mental, yaitu mental health hyperawareness. Fenomena tersebut menggambarkan bahwa emosi negatif manusia yang pada dasarnya merupakan emosi dasar dan sehat, seperti stres, sedih, dan cemas, seringkali diinterpretasikan sebagai gangguan kesehatan mental. Kesadaran yang berlebihan tersebut dapat memperburuk gejala yang muncul saat seseorang yang telah menetapkan status kondisinya sebagai suatu gangguan kesehatan mental. Penetapan status sebagai seseorang dengan gangguan kesehatan mental dapat mempengaruhi konsep diri dan perilakunya karena ia berusaha menyesuaikan diri dengan status tersebut. Kondisi hyperawareness ini menyebabkan banyak orang melakukan self-diagnosis yang salah.
Penyebab dari mental health hyperawareness adalah konsumsi yang berlebihan mengenai konten kesehatan mental melalui sosial media. Konten-konten kesehatan mental yang beredar di sosial kebanyakan tidak disampaikan oleh seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan dan keahlian yang tepat untuk memberikan informasi mengenai kesehatan mental.
Untuk mengatasi fenomena ini, hal penting yang perlu dilakukan adalah mendapatkan bantuan dari profesional yang memiliki keahlian dalam bidang kesehatan mental, seperti psikiater dan psikolog. Selain itu, masyarakat perlu berpikir kritis atas informasi kesehatan mental yang didapatkan dari sosial media. Masyarakat perlu memahami bahwa media sosial tidak bisa menjadi pengganti atas diagnosis dan pengobatan oleh seorang profesional.